“Jadi, mau geser ke mana nih habis ini? Mumpung masih bisa seneng-seneng bareng,” ucap salah satu teman dengan rambut pirang yang warnanya sudah mulai memudar.
Malam itu kami sedang buka puasa bersama — agenda tahunan yang rasanya sayang untuk dilewatkan begitu saja.
“Serius nih?” tanyaku sambil menghabiskan sisa makanan yang mulai dingin. Bukannya tak percaya, tapi sering kali rencana seperti ini hanya berhenti di wacana.
“Iya dong. Tahun depan belum tentu bisa gini lagi,” jawabnya tegas setelah kuceritakan rencana lulusku sebelum tahun berganti.
“Kayutangan mau ga?” sahut teman yang lain, mencoba melempar ide.
“Ayo lah, gas,” jawabku cepat. Seumur hidup, aku belum pernah benar-benar ke sana.
Lucu juga. Aku lahir dan besar di kota yang sering disebut Kota Pendidikan — Malang. Tapi setiap kali ada yang bertanya tempat jalan-jalan di kota ini, aku justru sering kehabisan jawaban. Bukan karena kota ini tak punya tempat indah, tapi aku saja yang jarang menjelajahinya.
Tak semua dari kami ikut ke Kayutangan malam itu. Jam memang sudah menunjukkan pukul sembilan, sehingga beberapa langsung pulang karena lelah. Sisanya tetap berangkat, menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang yang menikmati malam.
Sesampainya di sana, aku memarkirkan motor lalu berdiri sejenak di atas jembatan penyeberangan. Dari sana terlihat Katedral di seberang persimpangan, berdiri megah di tengah lalu lintas yang masih bergerak. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning yang lembut di trotoar Kayutangan. Kota ini terlihat indah dengan caranya sendiri.
“Sambil jalan, yuk,” kata salah satu temanku sambil menunjuk trotoar yang dipenuhi orang.
“Rame juga ya ternyata,” ucapku sedikit kecewa. Entah kenapa aku membayangkan suasana yang lebih sepi dan tenang.
“Wajar sih. Hari libur,” jawabnya.
Aku berjalan mengikuti mereka, mencoba menikmati malam, sambil mengirim pesan pada seorang teman yang berada di sisi lain kota ini, kalau akhirnya aku benar-benar sampai di Kayutangan — tempat yang katanya selalu jadi salah satu wajah paling hidup dari kota ini.
Namun tak lama kemudian, pandanganku tertarik pada sesuatu di pinggir jalan. Bukan bangunan tua yang estetik, dan bukan juga lampu kota yang temaram.
Seorang anak perempuan berdiri di pinggir trotoar, menggenggam beberapa tangkai bunga di tangannya. Ia menawarkannya kepada orang-orang yang lewat, dengan mata yang tampak berat — seperti seseorang yang sebenarnya hanya ingin pulang dan tidur.
“Sepuluh ribu per tangkai, kak,” ucapnya pada orang-orang yang bahkan tak terlalu peduli untuk menoleh kembali.
Aku sempat terpikir untuk membeli satu tangkai mawar merah darinya. Barangkali itu bisa membantunya pulang lebih cepat malam itu. Tapi kemudian aku sadar, aku bahkan tak tahu akan kuberikan pada siapa bunga itu setelah sampai di tanganku.
Beberapa meter dari tempatku berdiri, seorang anak laki-laki duduk di dekat dagangannya. Di depannya tersusun beberapa roti cokelat yang sudah dibungkus rapi dengan plastik bening. Sekilas aku ingin membeli satu — tapi perutku masih terasa penuh setelah buka puasa bersama tadi.
Aku menatap mereka sejenak.
“Di mana orang tua mereka?” tanyaku pada diri sendiri.
Pertanyaan itu muncul begitu saja di kepalaku. Aku membayangkan umur mereka yang mungkin belum genap sepuluh tahun, tapi sudah harus berdiri di pinggir jalan menjajakan sesuatu hingga larut malam.
Pemandangan seperti itu sebenarnya bukan hal baru bagiku. Di perempatan Jalan Veteran dekat kampus, aku juga sering melihat hal yang sama. Anak-anak duduk di pinggir jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah merah, lalu berjalan pelan di antara kendaraan sambil menadahkan tangan mereka.
Banyak orang bilang sebaiknya mereka didiamkan saja. Memberi uang pada mereka dianggap sama saja dengan membiarkan keadaan itu terus berlangsung.
“Mereka masih muda. Harusnya bisa mencoba mencari kerja,” kata sebagian orang yang hidupnya mungkin tak pernah benar-benar kekurangan.
Namun bagi mereka yang sampai harus menadahkan tangan di jalanan, pilihan hidup sering kali tak sebanyak yang kita bayangkan.
Di kala mereka yang sudah menyandang gelar sarjana saja masih kesulitan mencari pekerjaan, apa yang bisa kita harapkan dari anak-anak yang bahkan belum sempat merasakan bangku pendidikan — di kota yang konon dijuluki Kota Pendidikan ini?
Pemandangan kecil itu entah bagaimana mengingatkanku pada sesuatu yang pernah dikatakan guru agamaku di kelas dulu — tentang bagaimana kita sering lupa untuk bersyukur.
Ia pernah berkata bahwa ketimpangan seperti ini akan selalu ada. Kita yang berada di tengah-tengah diberikan kesempatan untuk melihat ke bawah — agar kita belajar bersyukur. Pada saat yang sama, kita juga boleh menengok ke atas, untuk mengejar apa yang kita impikan.
Namun waktu itu aku sempat mengangkat tangan dan bertanya,
“Lalu apakah mereka yang di bawah hanya ada untuk bahan bersyukur bagi mereka yang di atas, Pak? Lantas bagaimana cara mereka bersyukur?”
Guru itu tersenyum kecil sebelum menjawab.
“Pernah dengar cerita tentang orang yang ingin punya mobil?” katanya. “Ia akan bersyukur ketika melihat orang yang selalu berjalan kaki karena tak punya motor.”
“Orang yang berjalan kaki juga demikian. Ia masih bisa bersyukur karena masih punya kaki, karena beberapa orang bahkan tak punya kemewahan untuk berjalan dengan kaki sendiri.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Dan mereka yang tak punya kaki pun tetap bisa bersyukur karena masih hidup. Sebab bagi mereka yang sudah mati, kesempatan untuk hidup adalah sesuatu yang akan selalu membuat mereka iri.”
Ingatan itu seolah menamparku dengan keras. Selama ini aku menganggap pulang dan beristirahat setelah belajar adalah hal yang wajar. Padahal bagi sebagian orang, itu mungkin sebuah kemewahan.
Mereka yang usianya bahkan belum genap sepuluh tahun sudah harus berdiri di pinggir jalan menjajakan sesuatu hingga larut malam. Sementara aku, yang hampir genap dua dekade, masih sering menghabiskan waktu berjam-jam di kasur sambil scroll TikTok tanpa arah.
Aku sering lupa bahwa sekadar bisa melanjutkan pendidikan di kampus ternama adalah impian banyak orang. Belum lagi kesempatan untuk benar-benar fokus menuntut ilmu tanpa harus memikirkan apa yang bisa dimakan untuk hari esok.
Kadang terasa ganjil ketika aku terus mengeluh tentang hidup, sementara di luar sana ada orang-orang yang bahkan tak punya waktu untuk sekadar mengeluh.
Dan mungkin ada benarnya kenapa Tuhan sampai mengulang perintah bersyukur tiga puluh satu kali dalam surat Ar-Rahman — karena aku sendiri pun sering lupa.
Malam itu Kayutangan tetap ramai seperti biasa. Lampu-lampu kota masih menyala hangat di sepanjang trotoar. Hanya saja, sejak melihat mereka, rasanya malam itu tak lagi terasa sama.
